Murid Mengencingi Gurunya Sendiri

Oleh: Mohamad Sobary* DI dalam masyarakat agraris-tradisional, ikatan kekerabatan dan usaha menjaga keutuhan tradisi merupakan bagian ...

Oleh: Mohamad Sobary*

DI dalam masyarakat agraris-tradisional, ikatan kekerabatan dan usaha menjaga keutuhan tradisi merupakan bagian terpenting dari kelestarian hidup itu sendiri. Harmoni kehidupan bersanding dengan dinamika.

Perubahan sosial yang cepat dikawal nilai-nilai dan etika. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf kemakmuran masyarakat disertai keseimbangan rohaniah sehingga limpahan materi tidak membuat manusia lupa diri.

Kemajuan, perubahan, dan kemakmuran tidak menjerumuskan manusia ke dalam kekosongan makna hidup yang bersifat “meaninglessness”, tetapi sebaliknya: hidup tetap berarti “meaningfulness” dan secara rohaniah manusia bisa mencapai cita-cita idealnya: “happiness”.

Dunia memang bukan surga sebagaimana gambaran menggiurkan di dalam kitab suci. Tetapi, sistem kemampuan masyarakat dapat ditingkatkan semaksimal mungkin untuk membangun sejenis “kerajaan surga” di bumi sehingga apa yang hanya fana ini—sefana apa pun—pernah bisa bermakna.

Di sana apa yang “pribadi” tak boleh melukai apa yang “sosial”, apa yang “materi” tidak boleh menghapuskan apa yang “rohaniah”, dan semangat kemajuan tak boleh lepas dari kendali “kepantasan” dan segenap tata krama yang telah teruji dalam usaha menjaga supaya hidup tetap mengalir sesuai fitrahnya sendiri.

 Dalam tatanan seperti itu filsafat dan landasan hidup dijaga, diamalkan, dan dihormati keutuhannya, tapi bukan keutuhan beku seperti sebuah kuburan. Kehidupan tetap kehidupan yang di dalamnya banyak tingkah laku menyimpang. Tapi, kaum bijak bestari di dalam masyarakat bersangkutan menggariskan tatanan secara lentur, luwes, estetis, namun kekuatannya sebagai aturan hidup tidak lenyap dalam estetika itu. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” menjadi contoh aturan etis itu.

Orang yang dianggap seranting”ditinggikan”, selangkah “didahulukan” tidak boleh mainmain dalam hidup ini. Dia dianggap ”panutan” orang banyak. Siapa tahu malah merupakan “junjungan” yang sangat dimuliakan sehingga orang rela menjaga segenap kehormatannya dengan menutup kemungkinan ”aib-aib”- nya yang tersingkap. Kepatuhan orang kepadanya membuat mereka bersedia “mikul duwur”, menghormati setinggitingginya, dan “mendem jero”, merahasiakan apa yang memang rahasia.

Tapi, bila orang dalam tahap rohaniah dan sosial seperti ini masih juga bertindak sembarangan, menabrak apa yang terlarang, dan bersikap menghalalkan apa yang secara sosial, ekonomi, dan politik maupun moral haram, dunia sosial di sekitarnya telah ambruk. Apa yang haram tetap haram. Hanya sebangsa setan, menurut sufi besar, Abdul Qodir Jaelani, yang membuat apa yang haram menjadi halal. Yang lain, yang bukan setan, tak bisa melanggar senekat itu.

“Apaefekpelanggaranmacam itu, dari golongan elite setinggi itu?” Dulu efeknya ini: kalau “guru kencing berdiri”, “murid kencing berlari”. Itu dulu. Hari ini siapa tahu itu tak begitu relevan lagi. “Apa yang sekarang tampak lebih relevan?” “Sekarang, kelihatannya kalau “guru kencing berdiri”, “murid mengencingi gurunya.” “Haaaah?” Jelaslah. Guru seperti itu tak pantas dianggap guru.

Dia tidak bisa “digugu”, dianut, dan “ditiru”, diteladani. Dia bukan kiblat politik, bukan kiblat sosial, bukan pula kiblat moral. Guru “dikencingi” murid itu masih lebih baik. “Ada yang lebih parah lagi?” “Ada. Dilupakan. Dibiarkan sendirian. Tidak dikunjungi. Tidak menjadi tempat bertanya. Tidak menjadi apa-apa. Dia boleh menunggu. Tapi, yang datang tak akan pernah ada. Sanksi sosial seperti ini berat. Dia sanksi yang berubah menjadi siksaan batin yang parah. Amat parah.

Di dalam kehidupan masyarakat Nusantara hal ini bukan perkara baru. Apa yang disebut “raja adil raja disembah, dan raja lalim raja disanggah”, apa bedanya dari fenomena tadi? Contoh modern—maksudnya mutakhir—banyak sekali. Ketua partai yang “plintatplintut” dan tidak bijak sama sekali, yang mengutamakan keluarganya sendiri, kebijakannya dilawan. Ketua partai ingin “begini”, diam-diam, orang melawan, dan yang terjadi bukan yang “begini” tadi.

Ketua partai ingin anak emasnya menempati posisi penting ternyata dalam proses politik yang licin anak emasnya terdepak seperti—maaf, anjing kurap—dan apa makna politisnya? Orang tak mau menuruti keinginannya. Dia sudah dianggap ”guru yang kencing berdiri”. Dia sudah dianggap memorak-porandakan tatanan hidup. Dia sudah mengguncang kehidupan itu sendiri. Apalagi gunanya guru seperti itu? “Apa yang dilakukan murid kepadanya?” “Murid itu mengencingi gurunya”.

Cara ini langsung, nyelekit, dan menghancurkan harmoni kehidupan gurunya. Bahkan mematikannya. Kalau masih berkuasa saja dilawan orang, dan ibarat guru sudah “dikencingi” muridnya sendiri, apa kira-kira yang terjadi kelak bila yang bersangkutan sudah tiba masanya untuk, secara hukum, secara politik, dan secara alamiah, dilucuti jabatannya? “Ya, karena itu ‘ojo dumeh’ lagi berkuasa,” kata orang yang dizaliminya, dan yang menaruh rasa dendam politik kepadanya.

Dia akan mengamati secara dekat, apa yang bisa dilakukan kelak. Dalil politik yang berkata bahwa politik “is the art of possible”, ya itulah maknanya. Cita-cita membutuhkan kesabaran. Ini “seni menunggu”: selamban apa pun waktu berjalan, seolah seminggu terasa sewindu, tapi yang ditunggu itu akan datang dan pasti datang. Sejarah penguasa zalim di seluruh dunia, termasuk yang dicatat dalam kitab-kitab suci, kalau penguasa sudah menjadi ”guru yang kencing berdiri”, dalil politiknya sangat jelas: “sehabis jaya datanglah binasa”.

Hukum-hukum sejarah— sejauh menyangkut perkara seperti ini—tidak pernah ramah. Beberapa bahkan sangat mengerikan. Bulu kuduk kita berdiri ketika akhirnya “kebinasaan” yang berkuasa. Tapi, inilah ironi dunia: para penguasa tak pernah belajar dari hukum sejarah. Rupanya, mereka ingin dikenai langsung oleh hukum itu sendiri. Ibarat guru, mereka ingin para “murid mengencinginya”.

*Mohamad Sobary, biasa dipanggil Kang Sobary, lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 7 Agustus 1952, adalah budayawan yang sering menulis di beberapa surat kabar Indonesia. Mantan Pemimpin Umum Kantor Berita Antara.
Name

Artis Indonesia Asyura Audisi Bakti Anak Banjarnegara Banjir Banjir Bandang Bank Sampah Banyumas Banyumasan Barlingmascakeb Batik Banyumas Bau Napas Bedah Buku Belalang Sembah Bencana Bencana Alam Beras Berburu Beringin Berprestasi Bhineka Tunggal Ika Bill Gates Binatang Bisnis Bisnis Online Blak-blakan Mencari Suami BNN Bojongsari Bonus Demografi Botol Plastik Bright Gas BSF Budaya Buku Elektronik Buku Elektronik Aksi Komik untuk KPK Buku Komik Buku Komik Pantang Korupsi Sampai Mati Bulu Mata BUMDES Bupati Banyumas Bupati Cantik Bupati Trenggalek Buruh Burung Gagak Busi cara pandang diet cerita Cilacap CPNS Cumlaude Daerah Daging Kambing Dana Desa Demo demonstrasi Desa Wisata Dialog Kepemudaan Diet diet ketat diet sehat Doktor Dongeng Anak EBooks Ekonomi Elpijji Melon Eskrim Facebook Stories Fakta Unik First Travel Fitur Baru Thumbnail Preview Video di Youtube Sangat Membantu foto: abcnews. Gado-gado Gajah Gaji Penyiar Radio Ganjar Pranowo Gas Gas Elpiji Gas Elpiji 3 Kg Gaya Hidup Gereja Gojek Google Drive Gorila Grasshopper Gubernur Jawa Tengah Gunung Slamet guru Guru dan Murid Haji Haji Backpacker Haji Tertua Hao Lina Harga Sayur Hari Batik Herbal Hercules Hewan Hidroponik Hiroshima University Hoax Sosmed Hujan Hukum Hype Ibadah Ibadah Haji Ibu Iriana Idul Adha Indoeskrim Indonesia Indonesian Idol Industri Info PNS Inspiratif Inspitrasi Institut Pertanian Bogor IPB Jalanan 3D Jasa Kirim Barang Jawa Tengah Jemaah First Travel Jemaah Haji Jembatan Cindaga Jendera Soedirman Jepang Jualan Kampung Abel Kampung Laut Cilacap Kampung Sidat Karang Taruna kasar Kasih Ibu Kebun Binatang Kekerasan Wartawan Keluarga Kementerian Kendaraan Kendaraan Bermotor Kepala Daerah Cantik Kepala Desa Kesalahan Kesalahan Orang Lain Kesehatan Kesehatan amp; Gaya Hidup Kesehatan Keluarga Ketika Sebagian Yang Berhaji Itu Kera dan Babi Khas Kisah Inspiratif Knalpot Komisi Pemberantasan Korupsi Kopi Korban Penipuan Korea Korea Selatan Korupsi KPK Kreasi Kriminalitas Kuda Kuliah Kuliner Kuliner Banyumas Kulkas Lalat Tentara Hitam Laudya Cynthia Bella Laut Lembaga lembut Liburan Guru Lionel Messi Literasi Literasi Media Lonceng Longsor Lowongan Lowongan CPNS Lowongan Pekerjaan LPG 3kg Lukisan 3D Lukisan karpet Persia maaf Mahasiswa Berprestasi makan sehat Makna Haji Malam Satu Suro Mangut Sidat Mantan Murid Marka Jalan Mas Kawin Mata Dewa Mekah memaafkan Memahami untuk Membasmi Meninggal Menteri Menu Sarapan MetroTV Mitos Mobil Mobil Manual Momen Romantis Monyet Motor murid Museum Tino Sidin Naga Lima Napas Narkoba nasi bikin gemuk Nelayan Kebumen dan Cilacap Nengat Nikah Siri Nilai Yang Kita Sandang Nomor Viral Nyangkut Obat Terlarang Ojek Online Ojek Pangkalan Online Operasi Zebra Opini Opini/Perspektif orang lain Orang Tua Ormas Panatai Widarapayung Pancasila Panda Panduan Dosen Pantai Pantai Cilacap Pasar Gombong Pasien Oplas Paus PDIP Pejalan Kaki Pelat Nomor Pelayan yang malas Pelestarian Batik Pembangunan Pencuri Sekolah Pendidikan Antikorupsi Pengusaha Malaysia Penipuan Penyanyi Pernikahan Pernikahan Artis Pernikahan Warga Perppu Perppu Ormas Pertamina Pertamina Cilacap Pertanian Pesawat Piala Dunia 2018 Piknik di Kumbinesia Pil PCC Pilbup Banyumas Pilih Santan apa Susu? Pilkada Pilkada Banyumas Pizza pltpb banyumas Pohon Beringin Pojok Baca Pola Pikir Polisi Tidur Politik Politik Banyumas Polres Banyumas Presiden Jokowi Presiden Sukarno Profesor Pull Up Purbalingga Purwokerto Putusan MK Radio Raisa Andriana Raja Arab Raja Salman Rambut Rekor Dunia relax Relax/Kepo Resensi amp; Buku Elektronik Resep Soto Kecik ruang tamu Rumah Kena Petir Rusia Saka Tunggal Sakit Gigi Sampah Organik Sandalwood Sarapan Sate Kambing Sate Kebo Sate Kerbau Sayuran Semua Bisa Beraksi Sepak bola Sepeda Dari Presiden Jokowi Serambi UMKM Serangga Sidat Asam Manis Simpan Telur Simpanse Siti Masitha Situs SMA Pekalongan SMP Pekalongan Sosok Soto Sokaraja Sportomotif Starbucks Stiker Happy Family Stiker Mobil Stok Aman Suap Sudirman Said Sujiwo Tejo Sukabumi Suporter Timnas surat dari anak Suro Suzuki Carry Swiss taksama Taman Safari Indonesia Tamu Tak Diundang Tanaman Herbal Tanaman Obat Tas Kayu Tegal Tekno & Inet Tekno amp; Inet teknologi Telur Teman Sekantor Teratai Tersangkut Tertib Lalu Lintas Timnas tips menata ruangan Tips Mengemudi tips praktis tokoh Transimisi Otomatis Transportasi Online Trotoar Tuswadi Ubur-ubur Ulang Tahun UMKM UMP Undang-Undang Unik Upah Urban Farming Usaha Cuci Mobil Usaha Cuci Motor Video Video Lucu Wali Kota Wartawan Wirausaha Wisata Wisata Pantai Wisataliner Yogurt Youtube
false
ltr
item
taksama.id: Murid Mengencingi Gurunya Sendiri
Murid Mengencingi Gurunya Sendiri
https://1.bp.blogspot.com/-HhL9FLpANOQ/Ww10mvTUlXI/AAAAAAAAb2o/BZHha7JoV98oIQ3Qapg_q6OLH6XM65ASgCLcBGAs/s640/Murid%2BMengencingi%2BGurunya%2BSendiri.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-HhL9FLpANOQ/Ww10mvTUlXI/AAAAAAAAb2o/BZHha7JoV98oIQ3Qapg_q6OLH6XM65ASgCLcBGAs/s72-c/Murid%2BMengencingi%2BGurunya%2BSendiri.jpg
taksama.id
http://www.taksama.id/2018/01/murid-mengencingi-gurunya-sendiri.html
http://www.taksama.id/
http://www.taksama.id/
http://www.taksama.id/2018/01/murid-mengencingi-gurunya-sendiri.html
true
65439629817836164
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy